KENAPA BANYAK SEKOLAH BISNIS TAK MENGHASILKAN PEBISNIS SESUNGGUHNYA?

Based On True Story

Pengalaman ini terpaksa saya tuangkan dalam tulisan ini mengingat saya adalah seorang penggiat wirausahawan muda dan saya tengah berusaha mensosialisikan gerakan penciptaan wirausaha baru tidak terlepas dari masyarakat umum maupun kampus. Saya sangat senang dan antusias saat membicarakan sesuatu hal

Entrepreneur Formulayang berkaitan dengan entrepreneurship karena bagi saya entrepreneurship itu sangat luas bahkan menyangkut aspek-aspek kehidupan nyata kita sehari-hari. Melalui entrepreneurship saya merasa bertumbuh pesat secara keilmuan, bertumbuh secara kepribadian, bertumbuh secara ekonomi dan sosial kemasyarakatan.

Baru satu hari lalu saya menyelesaikan pelatihan untuk para fasilitator dan pengajar kewirausahaan di sebuah kampus Perguruan Tinggi Swasta (yang sekarang besar) milik salah satu BUMN terkaya Indonesia di Bandung. Tujuan pelatihan sebenarnya untuk sharing juga sekalian transfer ilmu yang saya dan rekan-rekan YEA miliki dalam mengembangkan iklim kewirausahaan di YEA. Selama pelatihan energi saya terkuras luar biasa, bukan karena materi pelatihan yang berat tetapi leboh kepada aura peserta pelatihan yang luar biasa terasa negatifnya.

Saya pribadi sendiri paham betul bahwa peserta dari kalangan akademisi apalagi dengan gelar mentereng, master, double master bahkan tingkat doktorpun hadir di situ adalah orang-orang pintar secara keilmuan. Jadi sengaja saya tidak memberikan banyak materi-materi teori yang justru akan mempersulit diri saya karena akan membuka kesempatan debat atapun testing question. Selama jalannya pelatihan saya terus menganalisa apa sih sebenarnya yang membuat aura kelas ini terasa begitu menarik energi saya.

Dalam pelatihan saya selalu menempatkan setidaknya ada dua orang asisten atau fasilitator. Fasilitator pertama biasa saya tempatkan sebagai obeserver peserta pelatihan dan fasilitator kedua perannya sebagai pembantu menyediakan semua logistik yang diperlukan selama pelatihan. Hari pertama pelatihan lebih dari 50% datang terlambat hingga 1 jam bahkan ada yang terlambat hingga setengah hari pelatihan, itu pun datang hanya untuk mengisi DAFTAR HADIR. Sekali lagi saya ulang ; datang hanya untuk megisi DAFTAR HADIR!. Budaya selama mereka kuliah yang di bawa ke dalam pelatihan ini membuat saya langsung ill-feel. Hari Kedua tidak jauh beda dan tetap lebih dari 50% peserta kembali datang terlambat dengan berbagai alasan. Selama pelatihan satu sama lain asyik terlihat ngobrol dan main gadget. Sekali lagi budaya negatif (menurut saya) selama mereka kuliah kembali di bawa di ruang ini. Biasanya saya menegur atau bahkan meninggalkan ruangan begitu saja. Kali ini sengaja saya tidak menegur peserta yang sedang asyik sendiri dengan gadget-nya, mereka sudah dewasa, mereka adalah pengajar mahasiswa-mahasiswa calon pemimpin bangsa dan mereka adalah orang-orang pintar yang tidak perlu lagi di beri tahu. Meskipun peraturan selama pelatihan sudah disampaikan namun ya namanya peraturan mungkin bagi mereka hanya tulisan. Beberapa dosen muda memang ada yang antusias menyimak bahkan mencatat, lainnya tetap asyik sendiri.

Saya seorang praktisi pengusaha juga sekaligus pengajar bahkan pendidik teman-teman calon pengusaha, mengenal banyak teman-teman pengusaha sukses, mempelajari budaya mereka seperti ; cara berbicara, bersosialiasi, menghargai waktu, ilmu dan pengalaman orang lain, rendah hati dan berpikir positif. Budaya ini selalu saya bawa di setiap kesempatan D I M A N A P U N bahkan hingga saat saya menjadi seorang pembicara, peserta pelatihan, peserta diskusi atau apapun itu. Saya memandang setiap orang selalu memilik sisi positif yang bisa saya ambil, untuk itulah dengan siapapun saya bertemu saya tuntut diri saya untuk selalu megambil manfaat (dari sisi positif) dari lawan bicara saya.

5 KESALAHAN PELATIHAN

Dari hasil pengamatan dan interview dua orang fasilitator kepada peserta (aktif) diperoleh beberapa kesimpulan apa kesalahan saya sehingga membuat aura pelatihan ini terasa berat ;

  1. Pelatihan ini diadakan secara GRATIS, maksudnya peserta tidak dikenakan biaya sepeserpun untuk mengikuti pelatihan ini. Ini jelas bagi saya bahwa tidak ada effort yang keluar dari pribadi peserta selain waktu dan pikiran mereka untuk mengikuti pelatihan ini. Bagi mereka jadi nothing too lose mau dapat ilmu atau tidak.
  1. PESERTA pelatihan pada umumnya adalah yang DITUNJUK alias DIWAJIBKAN bukan atas dasar keinginan sendiri. Ini juga jelas ada unsur keterpaksaan dalam mengikuti training ini.
  1. MOTIVASI terbesar mereka mengikuti pelatihan ini adalah SERTIFIKAT. Saya kurang tahu gunanya apa sertifikat bagi mereka, tapi kata banyak teman-teman saya yang berpofesi sebagai dosen setifikat ini modal untuk NAIK GAJI atau NAIK PANGKAT. Hmm…pantes mereka gak mau ketinggalan isi DAFTAR HADIR.
  1. Pada umumnya peserta secara TEORI sudah merasa tahu banyak dan pintar karena gelar akademiknya yang lebih tinggi dari saya, jadi bawah sadar mereka merasa tidak perlu lagi di bekali materi ini.
  1. Tempat pelatihan di KAMPUS MEREKA SENDIRI, jadi kesempatan mereka untuk menjelajahi mencari teman ngobrol jadi lebih leluasa.

Sebenarnya saya sudah menduganya dari awal karena sudah hampir 4 tahun ini saya mengisi training-training dan mengenal polanya. Meskipun demikian saya tetap secara professional melayani mereka walau agak malas-malasan bahkan sempat terpikir oleh saya mengisi traning ini hanya ingin menggugurkan kewajiban saja karena janji akan memberikan training kepada mereka sebagai bentuk ikatan kerjasama.

Di luar konteks kesalahan ini ada satu hal yang saya cermati bahwa mereka semua adalah TIM Perumus, Pengajar dan Pendidikan Kewirausahaan (Entrepreneurship) di kampusnya. Bagi saya entrepreneurship adalah ILMU TINDAKAN yang tidak lepas dari ilmu mengajarkan SEMANGAT dan MENTALITAS entrepreneur seperti attitude, courage, couriousity, credibility, creativity, conncectivity, sincerity, commitment dan consistency. Bukan melulu tentang teori management keuangan, riset, konsep pemasaran dan lain-lain sebagainya. Semua hal itu adalah satu paket jika salah satunya tidak dimiliki maka apalah artinya ILMU dan TEORI yang Anda miliki. Faktanya memang ilmu-ilmu tindakan ini tidak ada dalam kurikulumya kampus pada umumnya.

 

PIRAMIDA PEMBELAJARAN

Model Pembelajaran Efektif
Model Pembelajaran Efektif

Kembali ke topik. Coba anda cermati yang gambar Piramida Pembelajaran ini!. Proses pembelajaran di kampus umumnya berlangsung dalam bentuk Lecture, Reading, Audio Visual dan sedikit Demonstration atau MEMBERI CONTOH. Jika ketiganya dilakukan pun hanya memenuhi 30% penyerapan materi pembelajaran kepada siswanya. Pembelajaran mulai terasa hidup dan efektif pada saat pengajar menggunakan metode diskusi dan praktek. Nah… saya belum bisa bayangkan di level pembelajaran demonstration atau MEMBERI CONTOH, kira contoh seperti apa yang akan mereka (para dosen peserta pelatihan) itu berikan ya?…

 

Attitude & Courisousity ? Hmm… *geleng-geleng kepala tanpa suara, NO!

Credibility & Sincerity ? Hmm…*credibility macam apa kalau masih titip absen demi honor dan sertifikat (corruptor culture), NO!

Commitment? Hmmm…*sudah sepakat untuk tidak telat, tetap saja datang telat dan tidak ada penyesalan, NO!

Saya jadi penasaran, contoh apa yang mereka lakukan di kelas jika mereka mengaku berkomitmen ingin membangun semangat kewirausahaan dalam organisasinya tapi tindakannya tidak sejalan dengan semangat ini ya?.

Ini alasan saya menulis judul di atas “KENAPA BANYAK SEKOLAH BISNIS TAK MENGHASILKAN PEBISNIS SESUNGGUHNYA?”.

Kalau kita mengambil sudut pandang sederhana yang mengacu pada Piramida Pembelajaran ini jelas terlihat bagaimana bisa berhasil ya? seandainya proses pendidikan wirausaha hanya dilakukan melulu pada level LECTURE, READING & AUDIO VISUAL saja? Jika ada DEMONSTRATION pun, demonstrasi apa yang ingin ditunjukkan oleh tipe dosen-dosen di atas?.

Apalagi jika kita ambil dari sudut pandang rumus entrepreneur  E =m.C5  di atas. Apalah artinya skill dan knowladge (m) yang kita miliki jika salah satu dari set attitude/mindset  di atas tidak dimiliki alias nol. Tak akan ada yang namanya Entrepreneur jika salah satunya saja tidak dimiliki alias wrong attitude.

Kalau di level pendidiknya saja sudah begitu bagaimana dengan anak didiknya?. Itulah mungkin sebabnya kebanyakan kampus atau perguruan tinggi yang ‘bergenre’ kampus bisnis atau fakultas bisnis tidak betul-betul menghasilkan pebisnis. Kalau sudah begitu slogan keren ya hanya akan menjadi slogan semata.

 

Maju Indonesia!

www.kukuhindraprasena.com

Share this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *